KERAMIK


Advertisement
Indonesia's flag
Asia » Indonesia » Java » Bogor
February 17th 2010
Published: February 17th 2010
Edit Blog Post

Keramik


Fungsi:
Fungsi dari karya saya yang pertama adalah gelas atau cankir untuk minum, sedangkan fungsi dari karya saya yang kedua adalah piring buah untuk menempatkan buah-buahan yang akan disajikan.

Proses Pembuatan:

A. Keramik Pertama
Proses pembuatan dari keramik yang pertama diawali dengan membasahi tanah liat yang akan digunakan agar menjadi lembut, setelah itu baru diambil sedikit bagian dari tanah liat tersebut dan dibentuk menjadi bulat. Setelah tanah liat membulat, lalu dibuat menjadi panjang kira-kira 15cm. Kemudian, kedua ujungnya disatukan sehingga membentuk cincin dan tahap ini terus diulang sampai lima kali, lalu ditumpuk menjadi satu.
Kemudian, diambil lagi sedikit bagian dari tanah liat, dibentuk bulat dan pipihkan. Lalu bagian yang pipih tersebut ditempel di bawah tumpukan cincin tadi sehingga menjadi dasar gelas. Setelah itu sambungan dari tiap cincin diperhalus dengan memakai air. Setelah halus, bagian atasnya sengaja tidak dibuat lurus, tetapi bergelombang agar lebih artistik. Selain itu, saya sengaja tidak menggunakan tekhnik mencubit agar gelas tersebut tetap tebal dari bawah hingga ke atas.
Lalu dari sedikit bagian tanah liat saya membuat kuping untuk gelas tersebut dan ditempelkan ke gelas tersebut. Namun sayangnya saya tidak menggunakan lidi sebgai pengganjalnya, sehingga terlihat agak retak saat kering, tapi untung saja kupingnya tidak lepas dari gelasnya. Setelah terbentuk menjadi gelas, lalu dijemur selama beberapa hari hingga airnya benar-benar kering.



B. Keramik Kedua
Proses pembuatan keramik yang kedua hampir sama dengan proses pembuatan keramik yang pertama. Bedanya, setelah dibasahi seluruh tanah liat seberat satu kilogram dibentuk menjadi bulat. Setelah berbentuk bulat, kemudian tanah liat tersebut dipipihkan hingga setebal kira-kira dua sentimeter. Saat dipipihkan, pinggiran tanah liat dibentuk asimetris. Kemudian piring dihaluskan sambil pinggirannya dinaikkan agar bentuknya tidak datar. Setelah bentuknya halus, kemudian didiamkan beberapa hari juga hingga mengering.

Proses Pewarnaan:

A. Keramik Pertama
Untuk proses pewarnaan, saya menggunakan cat akrilik agar cepat kering. Tidak semua warna saya beli, tetapi hanya warna merah, kuning, biru dan putih saja. Lalu diawali dengan mewarnai seluruh permukaan keramik denga cat tembok warna putih agar putihnya benar-benar putih (jika memakai cat akrilik, warna putihnya kurang bersih). Selain itu saya cat warna dasar putih lebih dulu agar warna lukisan yang akan saya buat terlihat lebih jelas. Lalu cat putihnya didiamkan sehari semalam agar benar-benar mengering dan warnanya benar-benar cerah.
Setelah di cat warna outih, lalu dimulailah membuat pola yang akan saya lukis di keramik tersebut. Saya memilih pola pemandangan di waktu senja, karena menurut saya pemandangan ini sangat indah. Saya meniru sebuah lukisan yan pernah saya lihat di internet dan saya tuangkan ke atas gelas keramik yang saya buat. Setelah polanya jadi, maka saya mulai mewarna pola tersebut.
Saya menggunakan cat akrilik dengan warna-warna pokok dan kemudian saya satukan agar terciptalah warna yang saya inginkan. Setelah itu barulah saya mulai melukis seperti saat saya melukis di atas kertas, tetap bedanya, kali ini saya tidak menggunakan air agar keramik yang saya buat tidak basah lagi.
Untuk bagian luar gelas saya melukiskan pemandangan, dan untuk bagian dalam gelas saya tidak membuat pola tertentu. Bagian dalam gelas pertama-tama saya buat garis-garis tegak dan miring dari warna-warna yan telah aya dapat, lalu diantara garis-garis tersebut saya beri warna yang lain lagi dengan pola: dua warna yang senada tidak boleh berdekatan (misalnya merah dengan oranye). Dan setalh itu cat dikeringkan hngga benar-benar mengering.
B. Keramik Kedua
Pada pewarnaan keramk kedua serupa dengan keramik pertama, yaitu seluruh permukaan keramk di cat dengan cat tembok berwarna putih. Namun sayangnya, keramik saya yang kedua ini pecah menjadi dua bagian. Kemungkinan karena saat dipanaskan dengan oven, suhunya kurang panas, karena yang saya gunakan adalah oven yang biasanya untuk memanggang kue. Yang kedua adalah, karena ketebalan keramik yang berada di pinggir dan ditengah berbeda, maka bagian pinggir keramik lebih cepat mengering dibanding dengan bagian tengahnya, sehingga lama kelamaan bagian pinggirnya terus memuai dan bagian tengahnya menggelembung yang berakhir pada pecahnya keramik tersebut menjadi dua bagian.
Akhirnya, kedua bagian keramik tersebut saya cat seluruhnya dengan warna putih, lalu setelah catnya mengering saya mulai membuat pola buah-buahan diatas piring tersebut. Tekhnik mewarnainya sama seperti keramik yang pertama. Setelah saya selesai menggambar pola buah manggis dan buah apel diatas keramk tersebut, saya muai mewarnai dengan cat akrilik yang masih tersisa sebelumnya.
Setelah seluruh permukaan atas piring keramik tersebut saya warnai, saya lalu mendiamkannya semalaman untuk saya bawa esok paginya ke sekolah. Namun, betapa kagetnya saya ketika ternyata keramik saya sudah pecah menjadi tiga bagian. Menurut hipotesa saya, hal ini disebabkan karena saat malam hari keramik ini menciut kembali sehingga muncul retakan lagi yang membuatnya pecah menjadi tiga bagian. Sayang sekali piring buah saya tidak dapat digunakan lagi.

Kesan dan Pesan:
Kesan saya adalah melakukan kegiatan membuat keramk ini sangat menyenangkan. Hal ini juga dapat membantu membuat pikiran saya menjadi rileks setelah kegiatan di dalam sekolah yang membuat saya stress. Saya merasa seperti kembali ke taman kanak-kanak dimana kami semua membuat apa saja yan kami suka dari lilin mainan, dan itu sangat menyenangkan sekali.
Setelah membuat keramik saya merasa lebih rileks karena saya bisa menumpahkan semua yang saya rasakan disitu. Contohnya saja, apabila saya sedang merasa marah kepada seseorang saya bisa melampiaskan pada tanah liat itu dengan memijatnya hingga berbentuk sesuatu.
Pesan saya adalah jika mungkin kegiatan ini terus dilakukan setiap tahun untuk semua anak walaupun gurunya berbeda-beda. Karena, saya melihat bahwa tidak semua murid diberikan tugas untuk membuat keramik ini karena gurunya berbeda, padahal kegiatan ini juga dapat membantu menyeimbangkan otak kiri dan kanan manusia agar murid-murid SMAN 1 Bogor semakin cerdas.
Selain itu, jika memungkinkan sebaiknya diadakan perlombaan dari keramik keramik yang telah dibuat dari tiap angkatan agar para murid tidak hanya dalam rangka memenuhi tugas dari guru saja, tapi mereka juga memilki motivasi ntuk memenangkan pertandiangn tersebut. Dari sini juga para guru dapat melihat kreatifitas dari setiap anak dan tentu saja bagi anak yang berbakat harus di fasilitasi agar kemampuannya tidak hanya sia-sia begitu saja.


Advertisement



Tot: 2.102s; Tpl: 0.053s; cc: 8; qc: 51; dbt: 0.0592s; 1; m:saturn w:www (104.131.125.221); sld: 1; ; mem: 1.3mb